Saatnya Bijak Menggunakan Plastik

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan menerapkan kebijakan “kresek berbayar”. Konsumen yang berbelanja dan ingin menggunakan plastik kresek, harus membayar sesuai dengan harga yang ditetapkan.

sampah-di-laut

Akankah dimasa depan lautan akan lebih banyak sampah dari pada ikan? (ilutrasi:kkpnews.kkp.go.id)

Plastik sudah menjadi barang yang penting bagi manusia. Banyak kemasan dari barang-barang elektronik, aksesoris, hingga makanan, selalu ada bahan plastik di dalamnya.

Plastik adalah polimer rantai panjang atom yang mengikat satu sama lain. Plastik pertama kali diperkenalkan oleh Alexander Parkes pada tahun 1862 di London, Inggris. Plastik temuan Parkes disebut parkesine dibuat dari bahan organik dari selulosa. Plastik jenis ini sekarang mulai dikembangkan dan dipasarkan karena lebih ramah lingkungan. Walaupun memang dari segi harga masih lebih mahal dari plastik berbahan sintetis.

Pada tahun 1940 plastik berbahan polyethylene mulai populer. Bahan ini digunakan untuk membuat botol minuman, dirigen, kantong plastik, dan kontainer untuk menyimpan makanan. Jenis-jenis bahan plastik lainnya yaitu vinyl chloride, acrylic, silicone, urethane, dll.

Plastik mempunyai berberapa keunggulan sifat, yaitu ringan, tidak berkarat, bersifat termoplastis (bisa direkat menggunakan panas), dapat diberi label dengan berbagai kreasi, dan mudah diubah bentuknya. Plastik dapat juga dijadikan bahan kombinasi, seperti plastik dengan plastik jenis lain, plastik dengan kertas, dan dengan bahan lainnya. Kombinasi ini menghasilkan berbagai jenis kemasan.

Penggunaan plastik berkembang dari tahun ke tahun. Pada tahun 1930-an penggunaan plastik di dunia hanya beberapa ratus ton, pada tahun 1990-an penggunaan plastik meningkat menjadi 150 juta ton/tahun dan pada tahu 2005 meningkat lagi menjadi 220 juta ton/tahun.

Saat ini di Indonesia sendiri, produksi sampah plastik pada tahun 2015 mencapai 5,4 juta ton per tahun. Jumlah sampah plastik tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia. Hasil penelitian yang dimuat di jurnal Science yang terbit 13/2/2015, setiap tahun lautan di dunia dipenuhi sampah plastik hingga 12,7 juta ton. Dalam 20 daftar negara yang paling banyak membuang sampah plastik, China menempati tempat teratas, dengan membuang hingga 3,5 juta ton sampah plastik ke laut setiap tahunnya. Indonesia menempati urutan nomor 2. Urutan 3, 4 dan 5 ditempati Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. Hasil Riset Greeneration, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantung plastik per tahun.

Berdasarkan survey, rata-rata kantung plastik digunakan hanya 25 menit. Tetapi untuk hancur dan terurai di alam dibutuhkan hingga 500 tahun. Ini jadi masalah serius. Di Jerman, salah satu upaya mengurangi sampah plastik adalah dengan menerapkan aturan jaminan bagi botol kemasan minuman. Pembeli harus membayar sejumlah uang untuk kemasannya. Uang jaminan itu akan dikembalikan lagi oleh penjual, jika si pembeli mengembalikan botol bekasnya.

 

Kota Bandung telah memulai kampanye untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Kota ini juga merupakan salah satu dari 22 kota yang akan menerapkan kebijakan Kementrian LHK tentang biaya pembelian kantong plastik bagi konsumen. (sumber ilustrasi:viva.co.id)
Kota Bandung telah memulai kampanye untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Kota ini juga merupakan salah satu dari 22 kota yang akan menerapkan kebijakan Kementrian LHK tentang biaya pembelian kantong plastik bagi konsumen (sumber ilustrasi:viva.co.id).

 

 

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) akan menerapkan kebijakan “kresek berbayar”. Kementian LHK mengusulkan Rp 500 per kantong plastik. Sejumlah Rp 200 dikembalikan kepada konsumen yang mengembalikan “kresek” kepada ritel, sedangkan Rp 300 digunakan peritel untuk kegiatan lingkungan bersama pemerintah daerah atau dikelola Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik yang sejak 10 tahun mengadvokasi isu sampah. Namun usulan itu akan disesuaikan dengan kebijakan kepala daerah masing-masing.

Bagi pengusaha ritel ini merupakan hal yang menguntungkan. Ketut Sri Maryati, pemilik grup ritel coco di Denpasar menyampaikan di Harian Kompas, pebisnis diuntungkan dengan kebijakan pembatasan kantong plastik. Pihaknya mengeluarkan Rp 50 -60 juta setiap bulan untuk membeli kantong plastik yang dapat didaur ulang, lalu dibagikan gratis kepada pembeli. “Saya mendukung kebijakan pembatasan itu,” ujarnya.

Untuk memperluas dampak kebijakan itu, Kementrian LHK akan membuat kebijakan khusus yaitu menempelkan program plastik berbayar ini sebagai penilaian utama pemberian penghargaan Adipura Kencana dan Adipura. Adipura kencana adalah penghargaan Adipura yang diberikan kepada kota atau kabupaten yang kinerja pengelolaan lingkungannya memenuhi beyond compliance yaitu yang memiliki hasil penilaian tertinggi dan melebihi batas pencapaian yang ditetapkan.

Misterway mendukung kebijakan yang baik ini. Hal ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan plastik. Apa jadinya dunia ini kalau penggunaan plastik terus meningkat tiap tahunnya? Lautan penuh sampah plastik. Penyu dan ikan mati terjebak plastik. Nelayan mancing dapetnya plastik. Anaknya mati gara-gara makan plastik. 

Kita tidak bisa memusuhi plastik karena kita memang membutuhkan plastik. Namun kita bisa mengurangi penggunaan plastik misalnya dengan membawa tas sendiri untuk belanja. Kalau tidak mau repot ya kita harus mau membayar plastik itu. Itung-itung sebagai biaya melestarikan lingkungan. Mulai sekarang, yuk kita mencoba bijak menggunakan plastik.

 

Sumber bacaan:

antaranews/duniaiptek.com/dw.com/kompas/kkp/viva/wikipedia.

2 thoughts on “Saatnya Bijak Menggunakan Plastik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s