Resensi Novel: 12 Menit

Elaine, Tara, dan Lahang 3 anak muda yang berjuang untuk 12 menit. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, mereka tetap berjuang untuk memberikan yang terbaik dalam 12 menit.

Elaine geraknya dibatasi oleh ayahnya yang lebih menyutujui anaknya untuk menjadi seorang ilmuwan, menentang dan menganggap apa yang dilakukan   Elaine bermain biola hanya sia-sia. Tara yang memiliki keterbatasan karena pendengarannya terganggu akibat kecelakaan mobil yang pernah dialaminya sewaktu kecil, tak menghalanginya untuk terus memainkan snare drum, walaupun terkadang luka masa lalunya terus menghantui. Lahang, rumahnya yang jauh dari tempat latihan marching band, serta ayahnya yang sakit parah,  namun tetap bersemangat untuk mewujudkan keinginannya melihat monas.

Mereka tidak hanya bertiga, tetapi ada puluhan temannya dalam tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim yang akan berkompetisi di tingkat nasional. Dan dibalik tim ini ada seorang wanita yang bermimpi membawa mereka menjadi juara. Rene namanya, pelatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim yang telah berpengalaman menjadi pemain dan pelatih tim marching band profesional berskala internasional  di Amerika Serikat: Phantom Regiment.

Tim ini tak pernah sekalipun juara dalam lomba marching band tingkat nasional. Bisa tampil untuk ikut lomba setingkat nasional saja sudah menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bontang.

Namun perlombaan kali ini berbeda. Tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim harus bisa menjadi juara. Walaupun tim Marching Band  ini berasal dari daerah terpencil, hal ini tidak menghalangi Rene untuk berjuang dan menyemangati tim Marching Band ini untuk menjadi juara.

Rene menerapkan sikap disiplin dalam setiap latihannya. Jika ada yang telat datang ke tempat latihan, maka mereka harus mendapatkan hukuman untuk membereskan dan membersihkan alat-alat marching band, dan pulang lebih lama dari biasanya.

Apa yang direncanakan Rene tidak semudah dan tidak berjalan dengan semestinya. Elaine yang merupakan salah satu siswa terpintar di sekolahnya akan dikirim untuk mengikuti olimpiade Fisika dan dia harus mengikuti intensif belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi olimpiade. Jika dia mengikuti ini maka dia tak akan punya waktu untuk mengikuti latihan marching band. Tara yang tadinya bersemangat penuh dalam setiap latihan, akhirnya berhenti ditengah jalan karena kerasnya cara melatih Rene. Tara merasa sakit hati ketika Rene berbicara keras kepadanya. Lahang pun menjadi seperti orang yang pupus harapan semenjak sakit ayahnya semakin parah. Lahang merasa harus menjaga ayahnya setiap waktu, karena dia tak mau ayahnya meninggalkannya ketika dia tak bersamanya.

Rene pun harus berpikir keras dan mencari solusi, jangan sampai dia kehilangan pemain-pemain intinya. Mereka masuk menjadi tim inti bukan dari proses satu atau dua hari, tetapi berbulan-bulan. Mungkin hanya Elaine saja yang paling cepat bisa masuk ke tim inti.

Ini bukanlah hal yang mudah bagi Rene. Mungkin Elaine akan memilih untuk mengikuti kompetisi marching band, tetapi tidak bergitu dengan bapaknya Elaine. Josuke pasti akan memilih anaknya untuk mengikuti olimpiade Fisika dibandingkan dengan kompetisi marching band. Rene pun sempat bertengkar dengan bapaknya Elaine, karena Elaine lebih memilih marching band dibandingkan olimpiade Fisika, namun bapaknya tidak setuju akan hal itu. Kemudian Tara yang sudah merasa sakit hati terhadap Rene, masih sulit untuk dibujuk kembali ke tim marching band. Kakek dan Neneknya yang telah bertahun-tahun mengurus Tara pun, tidak mudah membujuknya untuk kembali latihan marching band. Lahang pun lebih memilih menjaga ayahnya, karena dia tak mau kehilangan ayahnya disaat dia tidak bersamanya.Waktu perlombaan semakin dekat, namun masalah tak kunjung selesai, belum lagi masalah lainnya yaitu biaya untuk pakaian tim yang tidak mencukupi. Padahal tim marching band harus tampil beberapa hari lagi di depan ribuan orang Bontang sebelum mereka tampil di Jakarta.

Namun bukanlah Rene jika dia tak mampu menghadapi masalah ini. Pengalaman hidupnya di Amerika menjadi pelajaran berharga baginya dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Beberapa hari sebelum penampilan di Stadion Bontang, Tara berhasil dibujuk untuk kembali ke tim, namun Elaine dan Lahang masih belum bergabung dengan tim. Ide untuk merubah komposisi timnya pun menjadi pilihan didalam otak Rene.

Hari yang dinanti-nanti tiba, tim marching band harus tampil di depan ribuan warga Bontang di stadion tercintanya. Tim marching band harus bisa memberikan penampilan yang terbaik, karena tim ini adalah tim kebanggaan warga Bontang. Pada penampilan malam ini, Rene tidak berharap lagi pada Lahang, namun pada Elaine masih sangat berharap. Jika Elaine tak datang maka posisi Field Commander akan digantikan oleh Ronny yang akan memimpin timnya diatas kursi roda.

Tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim sudah memasuki lapangan, diikuti oleh Rony yang masuk dengan kursi rodanya. Namun saat Ronny telah memasuki stadion, tiba-tiba Elaine pun datang. Bapaknya yang diundang oleh pejabat Bontang untuk menghadiri acara ini pun tiba-tiba meneriakkan vinceroo sambil mengangkat tangannya dan membentuknya membentuk huruf V dengan gayanya yang kaku. Elaine pun memimpin tim  marching band.  Penampilan berlangsung lancar dan meriah. Josuke pun akhirnya berubah pikiran 360° setelah melihat anaknya tampil. Dia juga telah mengizinkan anaknya untuk mengikuti kompetisi marching band di Jakarta.

Saat kompetisi di Jakarta, alhamdulillah Lahang telah bergabung dengan tim. Namun masalah kembali terjadi, beberapa jam sebelum kompetisi dimulai, Bapak Lahang dikabarkan meninggal dunia. Lahang pun harus pulang kampung sebelum kompetisi dimulai. Tiket sudah siap, dan Lahang pun akan pergi. Namun sebelum pergi Rene kembali bertanya kepada Lahang, “Apa kau yakin akan pulang? Iya kak”.  Tak berapa lama tiba-tiba ada elang datang dan seakan-akan berbicara kepada lahang, “Lahang kau harus jadi seperti elang, kau harus terbang tinggi”. Tiba-tiba Lahang pun berubah pikiran. Dia tidak akan pulang sebelum kompetisi selesai. Kemudian dia berkata kepada Bimo, Manajer tim “Pak saya tidak jadi pulang, saya akan ikut bertanding. Saya harus menang. Seumur hidup saya, belum pernah ada yang bangga pada saya. Orang yang paling saya harapkan untuk itu, sekarang sudah tidak ada. Kalau saya pulang sekarang, saya tak punya apa-apa. Saya bukan siapa-siapa. Jadi saya harus menang, Pak. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk saya sendiri.”

Tim sudah siap untuk tampil dalam 12 menit. Sebelum tampil seperti biasa mereka berdoa dan berteriak Vincerooooo..

Dari 12 menit kita bisa belajar, bahwa keberhasilan seseorang untuk meraih impiannya bukan  ditentukan oleh orang lain, tetapi dari dirinya sendiri. Akan banyak rintangan yang dihadapi, tetapi dibalik rintangan itu terdapat impian. Impian yang akan bisa kita raih jika kita mampu melewati rintangan itu. Vinceroo..

2 thoughts on “Resensi Novel: 12 Menit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s