LUAS DAERAH JELAJAH DAN ESTIMASI KEPADATAN POPULASI Tarsius banconus saltator DI PULAU BELITUNG

Disusun oleh :

Eva  Bai Syarifah        108095000027

Hidayatur Rahmah      109095000002

Rabiatul Aulia             108095000025

Yogi Setiawan           109095000038

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2012M/ 1433 H

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sumatera, sebagai pulau yang terletak di bagian paling barat dan merupakan pulau terbesar kedua di Kepulauan Nusantara, telah kehilangan lebih dari 40 % hutan alamnya. Ancaman kehilangan hutan juga terjadi di pulau-pulau dekatnya, seperti pulau Bangka dan Belitung. Secara geologi, pulau Belitung telah terpisah dari daratan Sumatra sejak ribuan tahun yang lalu (Whitten et al- 2000, Voris 2000). Pulau ini juga disebut sebagai salah satu pusat endemisme untuk region Sumatra (Natus 2005), dan salah satu jenis primata yang keberdaannya mulai langka di pulau ini adalah Tarsius.

Sampai saat ini Tarsius hanya menerima sedikit perhatian konservasi di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Filipina (Shekelle & Leksono 2004). Terutama keadaanya di pulau Bangka dan Belitung. Menurut IUCN Tarsius merupakan primata yang masuk dalam nominasi hidup dengan resiko rendah 2008. Apalagi perambahan dan penebangan hutan kian marak, bisa dipastikan habitat Tarsius di pulau Bangka dan Belitung semakin sempit dan tentunya akan berdampak pada jumlah hewan endemik ini. Selain itu perusakan hutan terdebut juga merusak habitat asli dari makanan sehingga Tarsius kehilangan sumber pangan utamanya yaitu serangga dan burung-burung kecil. Pada IUCN redlis, Tarsius dikategorikan dalam status konservasi Endangered (IUCN 2008).

Tujuan

Tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui estimasi luas daerah jelajah dan kepadatan populasi Tarsius bancanus saltator di pulau Belitung.

TINJAUAN PUSTAKA

Posisi filogenik Tarsius yang hidup sekarang, banyak diperdebatkan pada abad yang lalu. Tarsius diklasifikasikan secara bergantian pada Strepsirrhini pada subordo prosimia atau grup dari simia (Anthropoidea) dalam infraordo Haplorrhini. Namun sekarang telah ditetapkan bahwa Tarsius adalah primata dari genus Tarsius, suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae, satu-satunya famili yang bertahan dari inrfaordo Tarsiiformes. Dahulu ordo ini memiliki penyebaran yang luas. Namun semua spesies yang bertahan hidup sekarang banyak ditemukan di Asia Tenggara terutama di Indonesia.

Taksonomi Tarsius

Untuk lebih singkatnya taksonomi seluruh Spesies Tarsiua adalah sebagai berikut.

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Mamalia

Ordo                : Primata

Upraordo         : Haplorrhini

Infraordo         : Tarsiiformes

Famili              : Tarsiidae

Genus              : Tarsius

Spesies            : Tarsius bancanus

Subspesies       : Tarsius bancanus saltator

 Ciri-ciri morfologi Tarsius

Tarsius bacanus salsator mempunyai ciri-ciri dan perilaku yang sama seperti jenis-jenis Tarsius lainnya. Tubuh primata ini relatif mungil dengan panjang antara 12-15 cm dan dengan berat tubuh 128 gram pada Tarsius jantan dan 117 gram padaTarsius betina sungguh hewan yang mungil sekali. Bulu tubuh Tarsius sangat lembut mirip beludru. Bulu tubuh hewan mungil inipun beragam tapi identik tidak mencolok. Warna bulunya coklat kemerahan hingga abu-abu kecoklatan dan ada pula yang jingga hingga kekuningan. Keunikan lain dari fauna yang satu ini adalah ekornya yang panjang. Panjang ekor Tarsius ini dapat melebihi panjang dari tubuhnya. Panjang ekornya dapat mencapai 18-22 cm.

Semua jenis Tarsius bersifat nokturnal yaitu hewan ini tidur pada siang hari dan aktif pada malam hari, biasanya berada pada dahan dan ranting-ranting pohon dengan ketinggian 5 meter, namun seperti organisme nokturnal lain beberapa individu mungkin lebih banyak atau sedikit beraktivitas selama siang hari. Tidak seperti kebanyakan binatang nokturnal lain, Tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya (tapetum lucidum) di matanya. Mereka juga memiliki fovea, suatu hal yang tidak biasa pada binatang nokturnal.

 

METODE

Pada penelitian ini dilakukan di Pulau Belitung,l07035’-108018′ BT dan 2030′- 3015′ LS (Gambar 1)  dan difokuskan hanya di sekitar kawasan Gunung Tajam dimana Tarsius dilaporkan keberadaannya (Bappekab Belitung 2003).

Gambar 1. Lokasi penelitian di Pulau Belitung

Empat tipe habitat dapat diklasifikasikan di Gunung Tajam (Yustian 2007), yaitu:

  1. Hutan sekunder dengan perkebunan lada skala kecil (sekitar 0,3-0,5 ha) dan tebang pilih untuk keperluan kayu bakar, selanjutnya disebut sebagai tipe habitat Hl.
  2. Hutan sekunder dengan aktifitas tebang pilih lebih ekstensif dan dikelilingi oleh perkebunan besar kelapa sawit, selanjutnya disebut sebagai tipe habitat H2.
  3. Hutan sekunder tua pada lereng bukit yang sangat curam.
  4. Perkebunan kelapa sawit.

Keberadaan Tarsius pada suatu lokasi dapat diketahui melalui bau urine, kesesuaian habitat serta melalui informasi dari penduduk setempat. Luas daerah jelajah tiap individu diperkirakan dengan metode Minimum Convex Polygon (Kenward 1987, White & Ganot 1990). Sebanyak 60-95 titik triangulasi telah dicatat dalam waktu observasi berkisar 1 minggu untuk tiap individu (Yustian 2007).

 HASIL DAN PEMBAHASAN

Luas Daerah Jelajah

Luas daerah jelajah untuk tiap individu Tarsius yang berhasil diketahui melalui radio-tracking disajikan pada Tabel I dan Gambar 2.

Gambar 2. Daerah Jelajah Tarsius bancanus salvator di tipe habitat H1 (gambar  a.) dan Habitat H2 (gambar b.)

 

Daerah jelajah jantan pada kedua tipe habitat lebih besar daripada daerah jelajah betina. Hal ini dikarenakan hewan-hewan betina tampaknya lebih mempergunakan daerah jelajahnya untuk mencari makan,  sedangkan hewan jantan lebih mempergunakan daerah jelajahnya sebagai daerah teritorial dan mencari pasangan.

Berdasarkan luas daerah jelajah, tipe habitat Hl tampaknya menyediakan habitat dengan kualitas yang lebih baik bagi Tarsius, karena betina di tipe habitat ini memiliki rata-rata luas daerah jelajah yang lebih kecil dibandingkan rata-rata luas daerah jelajah betina di tipe habitat H2 (Yustian, 2007).  Menurut Crompton & Andau ( 1 985), penggunaan habitat oleh hewan betina lebih rnenunjukkan pada ketersediaan sumber daya dan pada hewan jantan lebih kepada penggunaan territorial.

Perbedaan wilayah jelajah juga terjadi dengan Tarsius di pulau lain seperti di Kalimantan, ataupun Sulawesi. Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan struktur hutan dari pulau-pulau tersebut dan pebedaan sistem sosial Tarsius.

Kepadatan Populasi

Kepadatan populasi tergantung dari tipe habitat dan luas habitat tersebut, selain itu predator yang ada juga mempengaruhi kepadatan populasi dari Tarsius. Penelitian mengenai kepadatan populasi tarsius dan distribusinya, menurut Gursky (2006) sangat dibutuhkan jika kita ingin mengembangkan program konservasi bagi Tarsius. Mempertimbangkan bahwa tidak ada lagi hutan primer di pulau Belitung, estimasi kepadatan populasi T.b. Saltator cukup besar di hutan sekunder yang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit (tipe habitat H2). Meskipun demikian, kepadatan primata tidaklah selalu merefleksikan kualitas habitat (Muehlenberg1993 dalam Merker et al.2005). Hal ini tidaklah berarti bahwa tipe habitat H2 memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan tipe habitat H1.

Tabel 3. Luas daerah jelajah beberapa spesies Tarsius pada beberapa tipe

habitat dari beberapa studi radio telemetri.

Tabel 4. Kepadatan populasi beberapa spesies/subspesies Tarsius

Tabel 4. menyajikan beberapa estimasi kepadatan populasi bebeap species tarsius dari beberapa studi yang telah dilakukan. Seluruh studi, kecuali Niemitz (1979) merupakan studi telemetri. Kepadatan populasi I b. saltator terlihat sedikit lebih banyak dibandingkan tarsius di Borneo (Crompton & Andau 1987).

Kepadatan populasi pada Tarsius di Sumatera lebih sedikit dan Kalimantan lebih sedikit dari Sulawesi dari Filipina, ada kemungkinan karena pengaruh predator yang mempengaruhi kepadatan populasi. Gursky (2006) melaporkan bahwa selama penelitiannya, tidak pernah dijumpai seekorpun, bahkan kotoran maupun jejak kaki dari musang  Sulawesi, Macrogalidia musschenbrockii, yang diduga merupakan predator utama tarsius. Beberapa karakteristik perilaku dan sistem sosial (seperti yang dijelaskan dalam Yusti an 2007), dapat memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai perbedaan kepdatan populasi

KESIMPULAN

— – Luas daerah jelajah Tarsius banconus saltator  jantan dewasa di tipe habitat  H1 lebih besar dari pada jantan di tipe habitat H2, sedangkan luas daerah jelajah betina di tipe habitat H1 lebih kecil dari pada di tipe habitat H2.

— – Estimasi kepadatan populasi pada tipe habitat H2 lebih besar dari pada tipe habitat H1.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s