RESUME KELOMPOK 2 : BIOMASSA SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETANOL


BIOMASSA SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETANOL

from: Neng Hida

 

Bioetanol merupakan energi alternatif yang ramah lingkungan dan makin banyak diproduksi dibanding energi alternatif lain, seperti biodiesel. Etanol dapat diproduksi melalui beberapa cara, yaitu :

  • Proses kimiawi dengan bahan baku dari bahan bakar fosil
  • Proses biologi dengan cara fermentasi gula yang hasilnya berupa bioetanol. Siklus metabolisme yang umum digunakan oleh mikroorganisme untuk memecah gula yaitu :
  1. Siklus EMP (atau lebih terkenal dengan nama glikolisis). Siklus ini bisa terjadi pada kondisi aerobik maupun anaerobik, dan menghasilkan energi dalam bentuk adenosine trifosfat (ATP) melalui fosforilasi substrat (Prescott et al. 2002).
  2. Siklus ED sangat mirip dengan EMP, dan kedua siklus berpusat pada piruvat. Namun, siklus EMP menghasilkan 2 mol ATP per mol glukosa yang digunakan, sementara siklus ED hanya menghasilkan 1 mol ATP. Sebagai konsekuensinya, biomassa lebih banyak dihasilkan pada siklus EMP. Oleh karena itu, organisme dengan siklus ini tidak diharapkan untuk produksi etanol.
  3. Siklus homoetanol, merupakan siklus yang mengubah piruvat menjadi asetaldehida dengan menggunakan piruvat dekarboksilase (PDC), selanjutnya menjadi etanol dengan menggunakan alkohol dehidrogenase (ADH) (Gambar 3) (Cueger dan Cueger 1989; Ingram et al. 1999).

Beberapa faktor perlu dipertimbangkan untuk mendorong produksi etanol sebagai bahan bakar alternatif, baik teknis maupun nonteknis.

  • Faktor teknis meliputi peningkatan kemampuan hidrolis dengan menggunakan enzim selulase yang efisien, serta peningkatan kemampuan mikroba dalam memfermentasi campuran gula C5 dan C6 hasil hidrolisis bahan berlignoselulosa.
  • Faktor nonteknis mencakup identifikasi dan pengelolaan limbah pertanian, insentif dari pemerintah untuk risetdan aplikasi teknologi, serta kesadaran masyarakat akan lingkungan.

BIOENERGI.

Untuk menghasilkan bioenergi dapat menggunakan system Microbial Fuel Cell (MFC). MFC adalah sistem pembangkit energi listrik dengan memanfaatkan interaksi bakteri yang terdapat di alam. Sistem MFCs ini akan memanfaatkan hasil dari proses metabolisme bakteri. Bakteri akan melakukan metabolisme dengan mengurai glukosa menjadi hidrogen (H2) dan oksigen (O2). Hidrogen merupakan bahan baku yang digunakan untuk reaksi reduksi dengan oksigen, sehingga melepaskan elektron pada anoda sebagai sumber arus listrik Bakteri yang terdapat dalam medium organic mengubah bahan organik menjadi energi listrik.

Sifat bakteri yang dapat mendegradasi medium organik (enrichment media ) pada MFC menghasilkan ion elektron dan proton. Ion-ion inilah yang menghasilkan perbedaan potensial listrik sehingga dapat dihasilkan energi. Bakteri bisa digunakan dalam system MFCs untuk menghasilkan energi listrik sambil menyelesaikan proses penghancuran dari material organik (Du et al., 2007).

Bakteri yang dapat digunakan dalam sistem MFCs adalah

  • Shewanella putrefaciens
  • Geobacteraceae sulferreducens
  • Geobacter metallireducens
  • Rhodoferax ferrireducens (Du, et al., 2007).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s