Syiah, Mu’tazillah dan Sunni

SYIAH

Pengertian

Syiah berasal berasal dari kata syi’run yaitu pendukung. Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang berkeyakinan bahwa yang paling berhak menjadi imam umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw ialah keluarga Nabi saw sendiri (Ahlulbait) yaitu Ali bin Abi Thalib yang merupakan sepupu dan juga menantu dari Nabi Muhammad saw.

Doktrin Syiah

1. Tauhid (bahwa Allah adalah maha esa).

2. Al- Adl (bahwa Allah adalah maha adil).

3. An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia.

a. Jumlah nabi 124 ribu

b. Nabi Muhammad ma’sum (tidak akan berbuat dosa) dan sebagai sayyidul mursalim (pemimpin dari para nabi dan rasul).

c. Al-Quran sebagai mukjizat

d. Al-Quran adalah hadits

4. Al imamah

a. Imam itu ma’sum

b. Imam itu sebagai pemimpin agama dan dunia

5. Al ma’ad (bahwa akan terjadinya hari kebangkitan).

Sekte-Sekte dalam Syiah

Syi’ah terpecah menjadi 22 sekte. Dari 22 sekte itu, hanya tiga sekte yang masih ada sampai sekarang, yakni:

1. Syiah Imamiyah

Disebut juga Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah dan terdapat di Iran. Urutan imam mereka yaitu:

1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin

2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba

3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid

4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin

5. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir

6. Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq

7. Musa bin Ja’far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim

8. Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha

9. Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi

10. Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi

11. Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari

12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al- Mahdi

2. Syiah Ismailiyah

Disebut juga Tujuh Imam; dinamakan demikian sebab mereka percaya bahwa imam hanya tujuh orang dari ‘Ali bin Abi Thalib, dan mereka percaya bahwa imam ketujuh ialah Isma’il. Aliran ini mula-mula terdapat di Afrika dan sekarang masih berkembang di India. Syiah Ismailiyah ini berkontribusi besar dalam pembangunan Baghdad dan Al- Azhar. Urutan imam mereka yaitu:

1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin

2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba

3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid

4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin

5. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir

6. Ja’far bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq

7. Ismail bin Ja’far (721 – 755), adalah anak pertama Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.

3. Syiah Zaidiyah

Disebut juga Lima Imam; dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum ‘Ali tidak sah. Aliran ini masih berkembang di Yaman dan dari segi akidah hampir sama dengan sunni. Urutan imam mereka yaitu:

1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin

2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba

3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid

4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin

5. Zaid bin Ali (658–740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.

Beberapa tokoh syiah telah dijelaskan diatas, selain itu masih adatokoh syiah yang lainnya yaitu:

a. Nashr bin Muhazim

b. Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa al-Asy’ari

c. Ahmad bin Abi ‘Abdillah al-Barqi

d. Ibrahim bin Hilal al-Tsaqafi

e. Muhammad bin Hasan bin Furukh al-Shaffar

f. Muhammad bin Mas’ud al-‘Ayasyi al-Samarqandi

g. Ali bin Babawaeh al-Qomi

h. Syaikhul Masyayikh, Muhammad al-Kulaini

i. Ibn ‘Aqil al-‘Ummani

j. Muhammad bin Hamam al-Iskafi

k. Muhammad bin ‘Umar al-Kasyi

l. Ibn Qawlawaeh al-Qomi

m. Ayatullah Ruhullah Khomeini

n. Al-‘Allamah Sayyid Muhammad Husain al-Thabathaba’i

o. Sayyid Husseyn Fadhlullah

p. Murtadha Muthahhari

q. ‘Ali Syari’ati

r. Jalaluddin Rakhmat

s. Hasan Abu Ammar

MU’TAZILAH

Nama- Namanya

1. Mu’tazilah

2. Ashabul adl wat Tauhid

3. Al-Qadariyah

4. Al- Muatillah (Allah itu tidak punya sifat)

5. Kaum rasionalis Islam

Sejarah Tumbuhnya Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah (memisahkan diri) muncul di Basra, Irak, di abad 2 H. Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atha’ (700-750 M) berpisah dari gurunya Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat. Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin.

Doktrin Mu’tazilah

1. At Tauhid. Mereka berpendapat :

o Sifat Allah ialah dzatNya itu sendiri.

o Al-Qur’an ialah makhluk.

o Allah di alam akhirat kelak tak terlihat mata manusia. Yang terjangkau mata manusia bukanlah Ia.

2. Al Adl. Mereka berpendapat bahwa Allah SWT akan memberi imbalan pada manusia sesuai perbuatannya.

3. Wa’ad dan Wa’id. Mereka berpendapat Allah takkan ingkar janji: memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat.

4. Al Mnzilah bainal Manzilah Tain. Ini dicetuskan Wasil bin Atha’ yang membuatnya berpisah dari gurunya, bahwa mukmin berdosa besar, statusnya di antara mukmin dan kafir, yakni fasik.

5. Amar ma’ruf (tuntutan berbuat baik) dan nahi munkar (mencegah perbuatan yang tercela). Ini lebih banyak berkaitan dengan hukum/fikih.

Tokoh- Tokoh Mu’tazilah

1. Wasil bin Atha’, lahir di Madinah, pelopor ajaran ini.

2. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Mu’taziliyah.

3. An-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf.

4. Abu ‘Ali Muhammad bin ‘Abdul Wahab/al-Jubba’i (849-915 M).

Ahlussunnah wal Jamaah

Pengertian

Ahlussunnah wal jamaah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur’an dan hadits yang shahih serta berpegang teguh terhadap sunnah Rasululah dengan juga para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Sejarah Tumbuhnya Ahlussunnah wal Jamaah

Sebenarnya sistem pemahaman Islam menurut Ahlussunnah wal Jama’ah hanya merupakan kelangsungan desain yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur-rasyidin. Namun sistem ini kemudian menonjol setelah lahirnya madzhab Mu’tazilah pada abad ke II H karena adanya perbedaan pendapat antara Imam Hasan al-Bashri dan Wasil bin Atha’.

Sejarah Lahirnya Mazhab Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah

1. Mazhab Al-Asy’ariyah

Aliran Al-Asy’ariyah dibentuk oleh Abu Al-Hasan ‘Ali Ibn Isma’il Al- Asy’ari yang lahir di Basrah pada tahun 873 Masehi dan wafat pada tahun 935 Masehi. Beliau masih keturunan Abu Musa Al-Asy’ari, seorang duta perantara dalam perseteruan pasukan Ali dan Mu’awiyah.

2. Mazhab Al-Maturidiyah

Pendiri dari aliran ini adalah Abu Mansur Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmud al-Maturidi yang lahir di Samarkand pada pertengahan kedua dari abad ke sembilan Masehi dan meninggal pada tahun 944 Masehi. Ia adalah pengikut Abu Hanifah dan paham-pahamnya mempunyai banyak persamaan dengan paham-paham yang diajarkan oleh Abu Hanifah.

Tokoh Mazhab Al-Asy’ariyah

Tokoh pendiri Mazhab Al- Asy’ariyah adalah Abu Al-Hasan al-Asy’ari

Tokoh yang sangat berjasa mengembangkan paham al-Asy’ari ini adalah:

– Abu Bakar Muhammad bin Thayyib bin Muhammad

– Abu Bakar al-baqillani.

– Abu al-Ma’ali Abdul Malik al-Juaini.

– Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali.

Tokoh Mazhab Al-Maturidiyah

Tokoh pendiri Mazhab Al-Maturidiyah adalah Abu Mansur al-maturidi.

Para pengikut al-Maturidi (maturidiah) adalah:

Abu Al-jasr Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim al-Bazdawi

Ajaran-ajaran Mazhab Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah

1. Tuhan dan Sifat-sifat-Nya

Al asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat yag telah dijelaskan didalam Al-Qur’an dan Hadits, (berbeda dengan mu’tazilah) namun tidak boleh diartikan secara harfiah.

Menurut Al-Maturidi: Tuhan mempunyai sifat-sifat. Tuhan mengetahui sifat ilmu-Nya, bukan dengan zat-Nya. Tuhan berkuasa dengan sifat qudrah-Nya, bukan dengan zat-Nya. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Al-Asy’ari.

2. Akal Wahyu dan Kriteria Baik dan Buruk

Al Asy’ari berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan pada wahyu.

Dalam masalah baik dan buruk, Al-Maturidi berpendapat bahwa penentu baik dan buruk sesuai terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan syariah hanyalah mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu.

3. Al-Qur’an

Menurut Al-Asy’ari: Al-Qur’an adalah Qadim, bukan makhluk (diciptakan).

Menurut Al-Maturidi: Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang Qadim.

4. Antropomorphisme (Tajassum)

Menurut Al-Asy’ari: Tuhan bertakhta di ‘Arsy, mempunyai muka, tangan, mata, dan sebaginya, tetapi bentuknya tidak sama dengan makhluk.

Menurut Al-maturidi: Ayat-ayat Al-qur’an yang menggambarkan seolah-olah Tuhan mempunyai bentuk jasmani seperti manusia, harus ditakwil, diberi arti majazi, bukan diartikan secara harafiah.

5. Perbuatan Manusia

Menurut Al-Asy’ari: Perbuatan manusia diciptakan Tuhan, bukan diciptakan oleh manusia itu sendiri.

Menurut Al-Maturidi: Perbuatan manusia sebenarnya diwujudkan oleh manusia itu sendiri, sekalipun kemauan atau kehendak untuk berbuat itu merupakan kehendak Tuhan, tapi perbuatan itu bukanlah perbuatan Tuhan.

6. Muslim Yang berdosa

Menurut Al-Asy’ari: Seorang muslim yang melakukan dosa besar dan meninggal dunia sebelum sempat bertobat, tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula berada di antara mukmin dan kafir sebagaimana pendapat Mu’tazilah.

Menurut al-Maturidi: Muslim yang berdosa besar tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula berada pada tempat di antara dua tempat (al manzilah bain al manzilatain), sama seperti paham Al-Asy’ari.

7. Keadilan Tuhan

Menurut Al-Asy’ari: Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun.

Menurut Al-Maturidi: Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s