PENGEMBANGAN IPTEK YANG BERETIKA DAN ISLAMI

 

YOGI SETIAWAN

109095000038

  

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2012

Pendahuluan

Perkembangan IPTEK sekarang ini semakin pesat. Saking pesatnya setiap minggu ada saja perkembangan teknologi yang dipamerkan dan dipublikasikan. Saat ini rakyat Indonesia sebagian besar hanya sebagai komsumen dari teknologi-teknologi yang dihasilkan, bukan menjadi produsen yang dimana dapat membantu perkembangan IPTEK dan perekonomian di Indonesia sendiri.  Perkembangan IPTEK yang pesat ini membuat kita sebagai rakyat Indonesia harus bealajar dengan segera dan tidak boleh terus tertinggal dalam perkembangan IPTEK ini.

Perkembangan IPTEK yang pesat pada saat ini tidak diseimbangkan dengan perkembangan nilai-nilai etika dan agama yang harusnya menjadi pondasi bagi IPTEK. Tidak dipungkiri hal ini pun terjadi pada saat ini, dimana nilai-nilai etika dan agama tidak lagi dipandang sebagai hal yang harus dipelajari dan dipahami. Sehinga penyimpangan-penyimpangan yang ada pun bukanlah hal yang harus disalahi. Alasan utamanya adalah IPTEK dengan etika dan agama tidak ada sangkut pautnya.

Di zaman resainanance, orang-orang Atheis menganggap agama sebagai penghalang dalam perkembangan IPTEK. Oleh karena itu, agama bukanlah hal yang penting untuk dipelajari karena tidak membuat IPTEK semakin maju. Memang di zaman ini pun ada yang tidak setuju dengan pendapat ini. Tetapi tetap saja hingga saat ini kedua hal ini belum dapat terintegrasi satu sama lain.

Selain agama, etika pun menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan dijalankan. Etika dan agama sebenarnya menjadi suatu kesatuan. Karena didalam agama juga dipelajari etika. Namun di beberapa negara ataupun wilayah, etika dan agama merupakan hal yang terpisah karena etika bukanlah dari agama tetapi dari pendangan dan tanggapan masyarakat terhadap tingkah laku sosial masyarakat. Sehingga bisa saja etika di setiap wilayah di dunia ini dapat berbeda-beda, karena adat di setiap wilayah berbeda-beda.

Latar Belakang

IPTEK, etika dan islam menjadi ketiga hal yang dipandang perlu untuk disinergikan. Melihat ketiga hal ini belum sinergi dan terintegrasi hingga sekarang. Sebenarnya jika kita bisa mengambil pelajaran pada zaman kejayaan Islam, dimana IPTEK merupakan bidang yang dikuasai oleh umat Islam, ketiga hal tersebut tersinergikan dengan baik.

Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah. Semua ini terintegrasi dengan baik, yaitu IPTEK yang beretika dan Islami. Etika dan Islam sebagai pondasinya dan IPTEK sebagai bangunanya, sehingga memberikan manfaat yang sangat besar pada masyarakat di zaman itu.

Maka disini perlu dikaji kembali sebenarnya bagaimana mengembangkan IPTEK yang beretika dan Islami. Apa yang dimaksud etika dan apa yang dimaksud islami? Bagaimana cara pengembangan iptek yang beretika dan islami? Adakah pengembangan iptek yang tidak beretika dan tidak islami?

Tinjauan Pustaka

Kemajuan teknologi pada saat ini berkembang dengan sangat cepat. Secara umum IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) adalah suatu jalan dimana yang berfungsi membantu segala jenis kebutuhan manusia agar sesuatu dapat dilakukan dengan mudah dan sarana pemikiran manusia dan penciptaan alat-alat yang dapat mendukung kegiatan praktis (Explore, 2012).

Hal yang perlu dimengerti pula dalam IPTEK adalah etika. Jika kita lihat dari asal katanya, kata etik (etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar. Etika merupakan sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Etika ini sendiri pun sebenarnya mengatur pula tentang IPTEK.

Dari sudut pandang agama, Islam tidak pernah namanya melarang untuk mengembangkan IPTEK. Jika kita melihat surat yang pertama diturunkan Al-Quran, yaitu surat Al-Alaq, ayat pertama menyuruh kita untuk membaca.

Al Quran bukan buku ilmu pengetahuan,tetapi ayat-ayat mengenai alam semesta (kauniyah) kini terbukti dalampenemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini,” kata Prof Naggardalam ceramahnya di Aula Harun Nasution, Universitas Islam Negeri (UIN) SyarifHidayatullah, Jakarta, pada Kamis 30/9/2010 silam.

Pakar ilmu bumi (geologi) tersebut mengupas beragam penemuan ilmiah mengenai alam semesta yang mengamini hakikat kebenaran AlQuran. Sebagai contoh, Ayat-6 Surat Al Thur, “Al Bahrul Masjur” (Demilaut yang—di dalam tanah bawah laut itu—ada api). Terbukti secara ilmiah olehpara ahli geologi dan ilmu kelautan bahwa dasar semua samudra dipanasi olehjutaan ton magma yang keluar dari perut bumi. Menurut peraih doktor geologi jebolan UniversitasWales, Inggris, pada tahun 1963 itu, magma tersebut keluar melalui jaringanrengkahan raksasa yang secara total merobek lapisan litosfir dan sampai kelapisan astenosfir. “Para ilmuwan yang jujur akan kagum melihatkepeloporan Al Quran dan hadis-hadis Nabi terkait petunjuk tentangfakta-fakta ilmiah bumi, yang baru dapat dibuktikan pada akhir abad ke-20seiring dengan kemajuan iptek,” kata ilmuwan yang telah menghafal semua 30juz Al Quran saat berusia sepuluh tahun itu.

Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.

Orientalis Sedillot seperti yang dikutip Mustafa as-Siba’i dalam Peradaban Islam, Dulu, Kini, dan Esok, mengatakan bahwa, “Hanya bangsa Arab pemikul panji-panji peradaban abad pertengahan. Mereka melenyapkan barbarisme Eropa yang digoncangkan oleh serangan-serangan dari Utara. Bangsa Arab melanglang mendatangi ‘sumber-sumber filsafat Yunani yang abadi’. Mereka tidak berhenti pada batas yang telah diperoleh berupa khazanah-khazanah ilmu pengetahuan, tetapi berusaha mengembangkannya dan membuka pintu-pintu baru bagi pengkajian alam.”

Andalusia, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan menginsiprasi para ilmuwan Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang dibangun kaum muslimin.

Jadi wajar jika Gustave Lebon mengatakan bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan hampir menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Tidak hanya itu, Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa Arab-Persia lah yang dijadikan sandaran oleh para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Arnold de Philipi, Raymond Lull, san Thomas, Albertus Magnus dan Alfonso X dari Castella.

Buku al-Bashariyyat karya al-Hasan bin al-Haitsam diterjemahkan oleh Ghiteleon dari Polska. Gherardo dari Cremona menyebarkan ilmu falak yang hakiki dengan menerjemahkan asy-Syarh karya Jabir. Belum lagi ribuan buku yang berhasil memberikan pencerahan kepada dunia. Itu sebabnya, jangan heran kalau perpustakaan umum banyak dibangun di masa kejayaan Islam. Perpustakaan al-Ahkam di Andalusia misalnya, merupakan perpustakaan yang sangat besar dan luas. Buku yang ada di situ mencapai 400 ribu buah. Uniknya, perpustakaan ini sudah memiliki katalog. Sehingga memudahkan pencarian buku. Perpustakaan umum Tripoli di daerah Syam, memiliki sekitar tiga juta judul buku, termasuk 50.000 eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Dan masih banyak lagi perpustakaan lainnya. Tapi naas, semuanya dihancurkan Pasukan Salib Eropa dan Pasukan Tartar ketika mereka menyerang Islam.

Peradaban Islam memang peradaban emas yang mencerahkan dunia. Itu sebabnya menurut Montgomery, tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada Islam.

Empat belas abad yang silam, Allah Ta’ala telah mengutus Nabi Muhammad saw sebagai panutan dan ikutan bagi umat manusia. Beliau adalah merupakan Rasul terakhir yang membawa agama terakhir yakni Islam. Hal ini secara jelas dan tegas dikemukakan oleh Al-Quran dimana Kitab Suci tersebut memproklamasikan keuniversalan misi dari Muhammad saw sebagaimana kita jumpai dalam ayat-ayat berikut ini:

“Katakanlah, “Wahai manusia , sesungguhnya aku ini Rasul kepada kamu sekalian dari Allah yang mempunyai kerajaan seluruh langit dan bumi. Tak ada yang patut disembah melainkan Dia.” (QS. 7:159). “Dan kami tidaklah mengutus engkau melainkan sebagai pembawa kabar suka dan pemberi peringatan untuk segenap manusia…” (QS. 34:29). “Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat…” (QS. 21:108).

Tetapi sayangnya pada saat ini IPTEK saat ini tidak dikuasai oleh orang Islam, sehingga pondasi dari etika dan Islam menjadi terabaikan. Orang Islam pun karena tidak seluruh umat muslim, bahkan hanya sebagian yang mengerti tentang Islam itu sendiri, membuat orang-orang Islam hanya menjadi pesuruh dan hanya menjadi yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang rakus akan kekuasaan dunia.

Beberapa contoh perkembangan IPTEK di bidang genetika dan kedokteran yang melanggar etika ataupun nilai agama. Sebuah perdebatan sedang berlangsung tentang “Desainer bayi” atau “manusia transgenik”. Sebelum melahirkan dilakukan seleksi untuk beberapa alel dan gen yang diinginkan untuk sifat kompleks (seperti kepribadian, kecerdasan, dan karakteristik fisik) dan pemilihan jenis kelamin, sehingga hal ini  menjadi sesuatu hal besar yang muncul untuk didiskusikan di seluruh dunia.

Meskipun seks seleksi untuk pengurangan risiko penyakit seks terbatas atau x-linked dapat dibenarkan, ada perdebatan etis dan sosial yang serius tentang seks

seleksi hanya untuk permintaan orangtua berdasarkan sosio-budaya tenda atau alasan ekonomi, seperti satu jenis kelamin keunggulan atas lainnya. Demikian pula,

Islam tidak setuju dengan ‘bayi desainer’ atau ‘Transgenik manusia. Masalah ‘Tuhan bermain dan mengubah ciptaan melalui terapi gen, terutama untuk alasan kosmetik, dan perubahan yang tidak perlu.

Hal penampilan telah dipertimbangkan dalam beberapa “Fatwa”. Mayoritas ahli hukum Muslim telah diizinkan untuk melakukan ini jika kelainan disertai dengan fisik atau psikologis bersifat merugikan. Manusia meskipun perbedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, dan lainnya karakteristik fisik ditekankan dalam ajaran Islam.

Di dalam Al Qur’an telah dijelaskan bahwa:

“Wahai umat manusia! Kami menciptakan kamu dari (pasangan) tunggal dari  pria dan wanita, dan membuat Anda menjadi bangsa dan suku-suku, supaya kamu mengenal satu sama lain (Bukan berarti Anda mungkin membenci satu sama lain); 49/13 “.

Islam figh Academy (IFA), anak perusahaan Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang berafiliasi dengan World Muslim League (WML) membahas pedoman etika rekayasa genetik dalam sesi ke-15 pada tahun 1998. Berdasarkan rekomendasi dari OKI, adalah pasti dilarang menggunakan rekayasa genetika untuk mencapai tujuan jahat (Islamonline Fatwa Bank. Gene Therapy). Menurut Sadeghi (2005), penggunaan rekayasa genetika di bidang pertanian dan hewan bibit di bawah tindakan pencegahan yang diperlukan adalah diijinkan. Namun, memproduksi Genetik yang Direkayasa Mikro-organisme, makanan dan transgenik hewan atau tanaman dapat diperkenankan dan dilakukan dari perspektif Islam. Pada tumbuhan dan binatang manipulasi gen, risiko lingkungan harus diperhatikan dan dihilangkan. Perubahan dan percobaan terkait genetik pada hewan diizinkan dalam Islam, tetapi tambahan bahaya dan penyiksaan harus dihindari. Berdasarkan pedoman, genetik penelitian diperbolehkan hanya jika mereka tujuan akan menjadi:

1. Untuk mendiagnosis, mengklasifikasikan atau menyaring genetik

penyakit

2. Untuk menentukan faktor predisposisi genetik dari

penyakit sebelum muncul, jika ada yang efisien

cara untuk mencegah atau mengurangi komplikasi.

3. Untuk memberikan konsultasi bagi pasangan tentang

faktor risiko genetik dari keturunan mereka.

4. Untuk mengurangi, mencegah atau menyembuhkan penyakit dan

bukan untuk egenetika

5. Forensik kedokteran

6. Populasi penelitian genetik berbasis tentang

ilmiah dan etika prinsip.

Hal diatas adalah hal yang biasa ditemukan dalam dunia penelitian. Pada kehidupan sehari-hari penggunaan teknologi yang tidak memperhatikan etika menjadi hal yang dianggap biasa. Menelepon atau me-SMS disaat kuliah atau seminar berjalan. Pembicara secara serius memberikan ilmu namun peserta tidak serius memeperhatikan. Parahnya lagi disaat khotib sholat jumat sedang berkhotbah, peserta sholat jumat masih saja ada yang me-SMS, padahal di dalam sholat jumat jika khotib sudah berkhotbah, maka tidak ada lagi percakapan yang dilakukan.

Hal yang sudah sering diinformasikan di media massa adalah penggunaan internet yang tidak digunakan sebagaimana mestinya. Internet yang seharusnya digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan IPTEK, malah digunakan untuk membuka situs porno. Tindakan ini bukan saja dilakukan oleh orang dewasa tetapi juga anak-anak. Menurut data dari kapersky lab tahun 2010, setiap jam nya ada 160.000 anak-anak di dunia yang membuka situs porno. Pada tahun 2009 Indonesia masuk ke peringkat tiga sebagai pengguna internet situs porno(kompas). Ini merupakan hal yang menjadi ironi. IPTEK yang seharusnya dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dunia, malah menjadi rayap bagi masyarakat itu sendiri.

Resume

Pengembangan IPTEK yang beretika dan Islami memang perlu diterapkan dalam kehidupan. Sesungguhnya antara IPTEK etika dan Islam sebenarnya adalah suatu hal yang saling bersinergi bukan menjadi hal yang bertolak belakang. Setiap pelari pasti ada jalurnya, setiap kendaraan pasti ada jalannya dan disetiap jalan-jalan itu pasti ada batasannya.

Oleh karena itu disini diperlukan selain pendidikan IPTEK, pendidikan agama Islam harus diutamakan sebagai pondasi dari setiap ilmu yang dipelajari. Di dalam agama pun di pelajari etika dan agama pun mendukung untuk pengembangan IPTEK.

Demi berjalannya hal ini diperlukan peran dari semua pihak, baik bagi pemerintah, akademisi, pengusaha swasta, pengusaha media masa, alim ulama, serta dari organisasi terkecil yaitu keluarga yang paling mempengaruhi.

Kesimpulan

Pengembangan IPTEK harus memperhatikan etika dan sesuai dengan ajaran Islam demi terciptanya kesejehtaraaan di dunia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.290 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: